Sinar mentari sore mengintip malu dari sela tirai yang menari oleh embusan angin. Di tengah ruangan nyaris temaram itu, ia diam dalam kesibukannya.
Tangannya tergerak halus, menyapu raut seorang gadis di hadapannya dengan lembut, penuh kasih.
Ya, seorang gadis.
Garis mata serupa lekuk almond, dengan iris hazel tanpa binar itu tampak selaras dengan senyum sayu di wajah anggunnya. Bibir sewarna peach yang menyunggingkan segaris senyum, hidung bangir tak begitu mancung, garis alis natural yang melembutkan ekspresinya. Surai ikal sewarna karamel membingkai wajahnya.
Dia tampak begitu sempurna.
Pemuda itu menatap kanvas di hadapannya lekat, mengamati seraut wajah yang sedari tadi ia poles. Tangannya kembali meraih kuas, memberi rona semerah jambu di wajah pucat gadis itu. Senyum pemuda itu tergaris manis kemudian.
Diangkatnya lukisan itu, dan diamatinya untuk terakhir kali.
"Sempurna," gumamnya puas.
Gadis itu, sosok impiannya. Setiap goresan kuas dalam lukisan itu, seolah membahasakan bagaimana tipe gadis yang menjadi idealnya. Dan pemuda itu benar-benar bangga akan hasil yang ia capai kali ini.
Raut cantik itu, memuaskan hatinya.
"Seandainya kau nyata...," gumam pemuda itu lirih, mengelus pipi semerah jambu gadis yang tengah tersenyum di hadapannya. Namun ia segera terkekeh, merasa konyol.
"Apa yang kupikirkan?" gumamnya lagi.
Teng. ..
Dentang suara jam dinding di luar ruang kerjanya membuat pemuda itu teralih. Ia ingat, ia harus menyiapkan makan malam. Sebagai seorang mahasiswa yang hidup seorang diri dan jauh dari keluarga, siapa lagi yang bisa ia harapkan?
Pemuda itu melepaskan celemek yang ia kenakan, meletakkannya di tempat yang tadi ia duduki lantas kedua kakinya membawanya keluar dari ruangan.
Menyisakan sang gadis dalam kanvas yang ekspresinya tak juga berubah. Dengan seulas senyum lembut yang sayu, dan sepasang obsidiannya yang seolah menatap punggung pemuda yang kini melangkah meninggalkannya.
#
"Seandainya kau itu nyata...."
Gumaman itu terdengar, entah untuk keberapa kalinya dari pemuda itu. Ia selalu menggumamkan yang demikian, tatkala matanya tengah menatap sosok ciptaannya. Sosok fiksi yang membuatnya jatuh dalam cinta.
Apa dia gila?
Tidak, dia tidak gila. Sungguh ...
Hanya saja, entah bagaimana, gadis itu benar-benar menarik hatinya. Semakin lama ia menatapnya, semakin ia jatuh dalam pesona sosok itu.
Membuatnya terjebak dalam delusi.
Hari itu adalah malam yang dingin. Angin malam yang menerobos masuk dari jendela yang tak rapat menerbangkan tirai tipis yang menutupinya. Diabaikannya udara yang mulai menusuk raga. Matanya hanya tertuju pada satu titik, mengangungkan sosok gadis pujaannya.
"Sungguh, aku berharap kau itu nyata...," gumamnya lagi.
Ahh, baiklah. Mungkin beberapa dari kalian mulai berpikir bahwa dia benar-benar gila sekarang.
Oke, dia memang gila.
Katakanlah begitu. Namun....
"Jika aku menjadi nyata, lantas apa yang akan kaulakukan?"
Suara lembut seorang gadis memecah kesunyian malam.
Pemuda itu tersentak. Ada yang berbicara padanya?
Matanya lantas tertuju pada sosok di hadapannya, sosok yang masih setia dengan senyum yang seolah menyimpan seribu misteri. Tak mencapai mata, namun tak juga terlihat palsu.
"Aku pasti sudah gila."
Lihat, ia sendiri bahkan mulai meyakini bahwa ia gila.
"Aku bicara padamu."
Dan di detik selanjutnya, pemuda itu benar-benar tercekat. Membeku di tempatnya berdiri. Sepasang iris karamelnya menatap sosok yang perlahan namun pasti, keluar dari balik kanvas yang seolah memisahkan dunia mereka.
Malam yang dingin kini terasa semakin dingin. Mencekam.
"Kenapa kau menatapku begitu? Bukankah kau menginginkanku?" tanya sang gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Bukankah kau mencintaiku?"
Pemuda itu masih terdiam, membeku di tempatnya ketika gadis itu bergerak memeluknya.
"Terima kasih. Karena sudah menciptakanku, menyayangiku, memberiku cinta. Aku sungguh bersyukur ...," ucap gadis itu lembut.
Pemuda itu masih terdiam. Namun sebaris kata manis itu membuahkan segaris senyum di wajahnya kini. Perlahan, tangannya terangkat. Membalas pelukan sang gadis.
Ia bahagia. Sangat bahagia.
"Terima kasih ...," ucap pemuda itu kemudian. Entah untuk apa, ia pun tak yakin. Ia hanya ingin mengucapkannya.
"Tapi ... aku menyesali satu hal," lanjut gadis itu lirih, membuat sang pemuda merenggangkan pelukannya.
"Apa itu?"
"Aku...," gadis itu menggumam ragu. "Aku ingin meminta satu hal padamu.... Bolehkah?"
"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu," jawab pemuda itu lembut, membuat sang gadis menatapnya tak percaya.
"Kau ... yakin?"
"Tentu saja."
Kini, gadis itu tertunduk dalam, membuat sang pemuda menatapnya dengan tatapan bertanya. Sampai akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya ketika entah sejak kapan, sebuah gagang kuas menancap di kerongkongannya.
"Akh!!" teriakan pemuda itu tercekat di kerongkongan.
"Tapi kau takkan pernah bisa mengabulkannya," lirih gadis itu.
Pemuda itu bahkan tak menyadari, kapan gadis di hadapannya itu menikamnya. Segalanya terjadi begitu cepat.
Tak butuh waktu lama untuk sang pemuda akhirnya terkapar di lantai, dengan darah yang masih deras mengalir, menganak sungai dari luka yang dibuat oleh gadis yang ia cintai.
"Aku menyesali satu hal.... Mengapa kau menciptakanku, tanpa bisa memberiku sebuah nyawa?" gumam gadis itu. Matanya menatap dingin sosok yang kini tak bernapas di hadapannya.
"Aku ingin hidup.... Aku ingin hidup bersamamu...."
Gadis itu merendahkan posisinya hingga terduduk di lantai, ia mengangkat kepala pemuda itu, membaringkannya di pangkuannya, mengelusnya dengan sayang.
"Aku ... mencintaimu...."
END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar