Rabu, 15 Maret 2017

Cerpen: Burung Gagak dan Penebang Kayu

Seekor burung gagak terbang rendah di antara pepohonan hutan, menikmati udara sore yang hangat. Beberapa saat berkeliling, sepasang matanya kemudian tertuju pada sesuatu yang menarik di bawah sana. Lantas ia mendarat di salah satu batang pohon.

“Selamat sore,” sapanya pada seorang manusia yang duduk di bawah pohon yang ia singgahi.

Pria yang merasa tengah disapa itu mendongak, mencari keberadaan suara yang memanggilnya. Tatapannya yang sedikit sayu bertemu dengan si Gagak.

“Apa yang Anda lakukan di sana, Tuan?” Si Gagak bertanya lagi.

“Huh?” sahut pria itu sedikit melantur. “Seperti yang kaulihat …, menebang kayu. Itu pekerjaanku.”

“Tapi yang saya lihat, Anda tidak sedang melakukan apa pun,” Gagak terbang rendah dan mendarat di hadapan pria itu, “Anda sedang mabuk?”

“Sedikit … sepertinya—hik!” Pria itu terceguk.

“Tuan, pekerjaan Anda berbahaya, dan Anda ingin melakukannya dengan kondisi seperti ini? Sesuatu yang buruk akan terjadi,” tegur si Gagak melihat tingkah pria itu.

“Haaahh, sudahlah. Aku tidak butuh ceramah dari seekor burung!” Pria itu menepis tubuh si Gagak, membuatnya segera terbang menjauh tanpa mengatakan apa pun lagi.

#

Di lain hari, si Gagak kembali menjumpai pria itu di tempat yang sama. Ia bersandar di bawah pohon yang sama dengan tempo hari, namun kali ini batang pohon itu tampak telah ditebang seperempatnya.

“Halo Tuan,” si Gagak menyapa ringan, “wah, Anda mabuk lagi?”

“Diam. Isteriku tahunya marah-marah saja di rumah, dan aku tidak ingin mendengar ocehanmu juga di sini, gagak sok pintar,” sembur pria itu ketus.

“Anda dan isteri Anda sedang bermasalah?”

“Kami miskin, tentu saja banyak sekali masalah yang kami miliki. Sudah, berhentilah bertanya dan pergilah!” usir pria itu kemudian.

“Sebesar apa pun masalah yang kalian hadapi, tak seharusnya hal itu membuat kalian seperti ini. Bagaimanapun, kalian suami-isteri,” tegur si Gagak ketika hendak pergi.

“… kalian akan menyesal jika salah satunya menghilang.”

#

Di sore lainnya, si Gagak kembali mendapati pria itu separuh sadar di bawah pohon yang sama. Kali ini, batang pohon itu tampak telah terpangkas lebih separuhnya, sementara pria itu tampak tengah mabuk berat. Memutuskan untuk tak mengganggu, si Gagak berlalu begitu saja tanpa menyapa pria itu.

Di hari yang lain ia mendapati yang sedikit berbeda. Pria itu tampak giat sekali hari ini, mengayunkan kapaknya pada batang pohon yang sedikit lagi akan tumbang. Pria itu terus menghantamkan kapaknya, mengabaikan peluh yang membanjir.

Si Gagak mendarat di batang pohon yang lain, tak jauh dari sana. Menatap datar si Penebang Kayu yang dengan sekali lihat saja, ia tahu bahwa pria itu sedang mabuk berat.

“Manusia bodoh…,” gumamnya.

Krak!

Suara yang keras tiba-tiba terdengar. Perlahan, pohon itu mulai miring, jatuh ke tanah karena batangnya tak lagi mampu menopang tinggi tubuhnya.

Si Penebang yang memang sedang dalam keadaan separuh sadar agaknya membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat menyadari bahwa pohon itu condong ke arahnya, membuatnya tak memiliki cukup waktu untuk menghindar.

Suara berdebum menggema di seluruh penjuru hutan. Pohon itu telah tumbang … dengan batangnya yang kini menindih nyaris seluruh tubuh si Penebang.

Pria itu merintih lirih. Sakit yang menghujam seluruh tubuh membuatnya tak bisa melakukan apa pun. Dalam pandangannya yang samar, ia melihat si Gagak mendarat di hadapannya.

Kabut gelap mulai mengelilingi tubuh si Gagak. Perlahan, tubuh itu berubah menjadi sosok tinggi besar dengan jubah hitam. Tangannya menggenggam sebuah sabit panjang.

Tahulah ia siapa sosok itu sekarang.

Tanpa mengatakan apa pun, sosok gelap itu mengayunkan sabitnya. Mencabut nyawa dari raga si Penebang tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kini, ia menatap sosok tak bernyawa itu dengan tatapan dingin.

“Aku tidak mengerti mengapa manusia begitu ditinggikan. Mereka cerdas, bisa membedakan mana salah, mana benar … namun tetap saja jatuh pada kesalahan yang sama,” gumamnya dingin.

“Betapa bodoh dan memalukan.”

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar