Sinar mentari sore mengintip malu dari sela tirai yang menari oleh embusan angin. Di tengah ruangan nyaris temaram itu, ia diam dalam kesibukannya.
Tangannya tergerak halus, menyapu raut seorang gadis di hadapannya dengan lembut, penuh kasih.
Ya, seorang gadis.
Garis mata serupa lekuk almond, dengan iris hazel tanpa binar itu tampak selaras dengan senyum sayu di wajah anggunnya. Bibir sewarna peach yang menyunggingkan segaris senyum, hidung bangir tak begitu mancung, garis alis natural yang melembutkan ekspresinya. Surai ikal sewarna karamel membingkai wajahnya.
Dia tampak begitu sempurna.
Pemuda itu menatap kanvas di hadapannya lekat, mengamati seraut wajah yang sedari tadi ia poles. Tangannya kembali meraih kuas, memberi rona semerah jambu di wajah pucat gadis itu. Senyum pemuda itu tergaris manis kemudian.
Diangkatnya lukisan itu, dan diamatinya untuk terakhir kali.
"Sempurna," gumamnya puas.
Gadis itu, sosok impiannya. Setiap goresan kuas dalam lukisan itu, seolah membahasakan bagaimana tipe gadis yang menjadi idealnya. Dan pemuda itu benar-benar bangga akan hasil yang ia capai kali ini.
Raut cantik itu, memuaskan hatinya.
"Seandainya kau nyata...," gumam pemuda itu lirih, mengelus pipi semerah jambu gadis yang tengah tersenyum di hadapannya. Namun ia segera terkekeh, merasa konyol.
"Apa yang kupikirkan?" gumamnya lagi.
Teng. ..
Dentang suara jam dinding di luar ruang kerjanya membuat pemuda itu teralih. Ia ingat, ia harus menyiapkan makan malam. Sebagai seorang mahasiswa yang hidup seorang diri dan jauh dari keluarga, siapa lagi yang bisa ia harapkan?
Pemuda itu melepaskan celemek yang ia kenakan, meletakkannya di tempat yang tadi ia duduki lantas kedua kakinya membawanya keluar dari ruangan.
Menyisakan sang gadis dalam kanvas yang ekspresinya tak juga berubah. Dengan seulas senyum lembut yang sayu, dan sepasang obsidiannya yang seolah menatap punggung pemuda yang kini melangkah meninggalkannya.
#
"Seandainya kau itu nyata...."
Gumaman itu terdengar, entah untuk keberapa kalinya dari pemuda itu. Ia selalu menggumamkan yang demikian, tatkala matanya tengah menatap sosok ciptaannya. Sosok fiksi yang membuatnya jatuh dalam cinta.
Apa dia gila?
Tidak, dia tidak gila. Sungguh ...
Hanya saja, entah bagaimana, gadis itu benar-benar menarik hatinya. Semakin lama ia menatapnya, semakin ia jatuh dalam pesona sosok itu.
Membuatnya terjebak dalam delusi.
Hari itu adalah malam yang dingin. Angin malam yang menerobos masuk dari jendela yang tak rapat menerbangkan tirai tipis yang menutupinya. Diabaikannya udara yang mulai menusuk raga. Matanya hanya tertuju pada satu titik, mengangungkan sosok gadis pujaannya.
"Sungguh, aku berharap kau itu nyata...," gumamnya lagi.
Ahh, baiklah. Mungkin beberapa dari kalian mulai berpikir bahwa dia benar-benar gila sekarang.
Oke, dia memang gila.
Katakanlah begitu. Namun....
"Jika aku menjadi nyata, lantas apa yang akan kaulakukan?"
Suara lembut seorang gadis memecah kesunyian malam.
Pemuda itu tersentak. Ada yang berbicara padanya?
Matanya lantas tertuju pada sosok di hadapannya, sosok yang masih setia dengan senyum yang seolah menyimpan seribu misteri. Tak mencapai mata, namun tak juga terlihat palsu.
"Aku pasti sudah gila."
Lihat, ia sendiri bahkan mulai meyakini bahwa ia gila.
"Aku bicara padamu."
Dan di detik selanjutnya, pemuda itu benar-benar tercekat. Membeku di tempatnya berdiri. Sepasang iris karamelnya menatap sosok yang perlahan namun pasti, keluar dari balik kanvas yang seolah memisahkan dunia mereka.
Malam yang dingin kini terasa semakin dingin. Mencekam.
"Kenapa kau menatapku begitu? Bukankah kau menginginkanku?" tanya sang gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya. "Bukankah kau mencintaiku?"
Pemuda itu masih terdiam, membeku di tempatnya ketika gadis itu bergerak memeluknya.
"Terima kasih. Karena sudah menciptakanku, menyayangiku, memberiku cinta. Aku sungguh bersyukur ...," ucap gadis itu lembut.
Pemuda itu masih terdiam. Namun sebaris kata manis itu membuahkan segaris senyum di wajahnya kini. Perlahan, tangannya terangkat. Membalas pelukan sang gadis.
Ia bahagia. Sangat bahagia.
"Terima kasih ...," ucap pemuda itu kemudian. Entah untuk apa, ia pun tak yakin. Ia hanya ingin mengucapkannya.
"Tapi ... aku menyesali satu hal," lanjut gadis itu lirih, membuat sang pemuda merenggangkan pelukannya.
"Apa itu?"
"Aku...," gadis itu menggumam ragu. "Aku ingin meminta satu hal padamu.... Bolehkah?"
"Aku akan mengabulkan semua keinginanmu," jawab pemuda itu lembut, membuat sang gadis menatapnya tak percaya.
"Kau ... yakin?"
"Tentu saja."
Kini, gadis itu tertunduk dalam, membuat sang pemuda menatapnya dengan tatapan bertanya. Sampai akhirnya, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya ketika entah sejak kapan, sebuah gagang kuas menancap di kerongkongannya.
"Akh!!" teriakan pemuda itu tercekat di kerongkongan.
"Tapi kau takkan pernah bisa mengabulkannya," lirih gadis itu.
Pemuda itu bahkan tak menyadari, kapan gadis di hadapannya itu menikamnya. Segalanya terjadi begitu cepat.
Tak butuh waktu lama untuk sang pemuda akhirnya terkapar di lantai, dengan darah yang masih deras mengalir, menganak sungai dari luka yang dibuat oleh gadis yang ia cintai.
"Aku menyesali satu hal.... Mengapa kau menciptakanku, tanpa bisa memberiku sebuah nyawa?" gumam gadis itu. Matanya menatap dingin sosok yang kini tak bernapas di hadapannya.
"Aku ingin hidup.... Aku ingin hidup bersamamu...."
Gadis itu merendahkan posisinya hingga terduduk di lantai, ia mengangkat kepala pemuda itu, membaringkannya di pangkuannya, mengelusnya dengan sayang.
"Aku ... mencintaimu...."
END
Rabu, 15 Maret 2017
Cerpen: Countdown
Genre: Fantasy, Songfict.
Song: Call My Name - YUCCA.
A rift in the night at the hill where we pledged to meet
Kissing the flower petals that fall in the moonlight
Dua puluh satu hari....
Semilir angin menyusuri retak malam, membawa dingin yang merasuk hingga tulang. Semilir angin menari, berlalu tanpa salam, menyisa sepi dalam kelam.
Aku menunggunya.
Seseorang yang entah berasal dari mana ... mungkin dunia yang berbeda. Seorang manusia yang kuanggap berharga, bahkan lebih dari sebuah nyawa.
Aku menunggunya.
Bukit tempat kami berjanji akan bertemu. Aku menantinya dalam jemu, meski sadar benar bahwa keberadaanku hanyalah sesuatu yang semu.
Aku tetap menunggunya.
Di bawah kelopak bunga yang menari terbawa angin malam. Di antara aroma manis yang jatuh di bawah sinar bulan. Bunga persik yang bermekaran menjadi saksi betapa aku setia menanti.
A mysterious land and the key that lures you away
Until you let go of it−−you, little girl, will remain a child
"Lama menunggu?"
Suaranya menyentakku dari lamunan. Aku mengangkat pandanganku, lantas mendapati sosok yang kutunggu berdiri di hadapanku. Seulas senyum tergaris manis di bibirnya, membuatku turut menarik garis yang sama.
"Tidak juga. Aku suka menunggumu di sini," sahutku seadanya, apa adanya.
Memang, selain hal itu ... tak ada lagi yang dapat kulakukan di sini. Dalam ruang khayal ini.
"Maaf, akhir-akhir ini aku mengalami kesulitan tidur. Masalah ini dan itu membuatku terus berpikir hingga menutup mata pun jadi sulit," keluhnya. "Aku lega bisa bertemu denganmu lagi."
"Hidupmu di dunia nyata sepertinya berat sekali ya?"
Dia mendengus. "Aku tidak ingin membicarakannya, setidaknya saat ini ... biarkan aku lupa akan apa yang sudah terjadi. Aku lelah.
"Aku sungguh berharap aku tak pernah keluar dari mimpi ini ...." Sorot dingin nan sayu merayapi wajahnya.
Ahh, apa kau bertanya-tanya siapa aku? Atau ... siapa dia? Di mana kami?
Well, kau akan mengerti pelan-pelan. Biar kujelaskan sedikit yang mungkin perlu kaupahami.
Aku hanyalah bagian dari ilusi yang diciptakan gadis ini. Bagian dari dunia ideal yang ia coba ciptakan untuk melindungi ... atau mungkin sekadar menghibur dirinya dari dunia nyata yang kejam.
Lucid dream.
Kau pasti tahu arti istilah itu, bukan? Keadaan di mana kau sadar bahwa kau tengah bermimpi.
Dan aku hanyalah bagian dari hal konyol itu.
"Walau bagaimanapun, ini bukanlah tempatmu. Kau boleh datang kapan saja, aku akan selalu ada di sini menunggumu, tapi kau harus tetap pulang," jawabku menanggapi gumamannya, lantas membuatnya tersenyum miris.
"Ya ... aku tahu itu."
Napas panjang kuhela perlahan, senada aku menanggapi setiap ucapan juga keluhan yang terlontar darinya. Aku tahu dia lelah ... takut.
Perlahan, kutarik ia dalam pelukan.
"Kau tak perlu menakutkan apa pun, kembalilah kemari kapan saja dan aku akan menemanimu hingga kau terlupa untuk menangis."
There's nothing to fear, you will never be alone
Kami melewati malam, di bukit yang sama, di bawah pohon persik yang sama. Ia banyak bercerita.
Dia selalu berkata bahwa ia tak ingin keluar dari sini, namun siapa pun tahu itu tak boleh terjadi. Terjebak dalam mimpi ... artinya mati.
"Hei, mereka selalu berada di sekitarmu, ya?" Jemari gadis itu memainkan kupu-kupu hitam yang berterbangan di sekitar kami. Kupu-kupu yang setia menemaniku selama aku menunggu. Kupu-kupu hitam milikku.
Mereka tetap terlihat indah, berterbangan di bawah cahaya rembulan. Mereka tetap terlihat memesona, meski menebar racun dalam setiap kepakan sayapnya yang kelam.
"Mereka adalah teman-temanku. Bukahkah kau menyukainya juga?" jawabku seadanya. Salah satu dari serangga itu menghampiri ketika kujulurkan telunjukku ke udara.
Benar, mereka temanku. Kupu-kupu bersayap hitam ... sesosok jiwa tanpa raga.
Waktu dengan cepat berlalu. Perlahan, bayang biru langit pagi mulai mewarnai cakrawala.
"Sudah pagi, aku harus kembali sekarang."
Gadis itu berdiri, melangkah dengan tarikan kaki yang enggan. Sungguh kentara. Ia menatapku ketika berdiri di depan pintu itu. Pintu yang menjadi batas antara mimpi dan kenyataan.
"Aku akan datang lagi," pamitnya.
"Lucy...." Gadis itu berbalik ketika aku memanggil namanya. "Tak perlu takut, kau tidak sendirian. Panggil aku dalam hatimu, dan aku akan ada di sana."
Aku menyunggingkan senyum termanis untuknya. Cukup untuk membuatnya turut tertawa kecil, lantas mengangguk.
"Terima kasih." Ia melanjutkan langkahnya dengan ringan, melewati pintu dan kembali terbangun di dunia sana.
Call my name, dear my friend
I will be near you soon
We are connected anywhere we are
Call my name, call my name
I will hold you soon
No more cry and sleep in my arms
Empat belas hari ....
Aku terus menghitung waktu. Bukan berarti aku begitu menanti datangnya hari itu. Aku justru tak ingin hari itu segera tiba.
Kupandangi kupu-kupu hitam yang berterbangan di sekitarku. Sayap kelam mereka mengepak pelan, terbang perlahan, seolah memberi salam setiap kali salah satu dari mereka melewatiku.
"Wahai Pangeran Mimpi ... aku merindukanmu. Sesak ... sakit ... aku benci tempat ini."
Sebuah suara membuatku tersentak. Gadis itu memanggilku ....
Suaranya terdengar jauh, seolah terbawa samar oleh angin.
"Tenanglah ... semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada di sisimu ...," jawabku, mengatakan pesan yang kusampaikan dari bawah sadarnya.
A voice calling at the bottom of memory,
is another side of dream like noise of wind faraway.
Tujuh hari ....
Ia masih kembali kemari setiap malam. Meski di sini ia terlihat baik-baik saja, namun aku tahu keadaannya di dunia nyata tak pernah seperti itu.
Ia kesulitan tidur, perlakuan manusia-manusia kejam di sekitarnya terus membuatnya tersiksa. Ia mulai mengonsumsi obat-obatan hanya agar dapat terlelap dengan tenang.
Aku tahu semuanya.
Waktunya memang sudah tak lama lagi.
Jiwa yang rapuh ... dia tentu tak akan sanggup menahan segalanya.
"Aku takut ... aku benar-benar tak ingin kembali," gumamnya pada suatu hari.
"Lucy, dengar." Aku memainkan helaian ikal gadis itu ketika dia berbaring di pangkuanku. "Apa pun yang terjadi, walaupun suatu saat kita tidak bisa bersama lagi seperti ini ... kau tak perlu takut akan apa pun. Jadilah dirimu apa adanya, dan hadapi dunia itu dengan sisa waktumu.
"Dengan begitu ... kau tidak akan menyesali apa pun."
Someday when we can no longer stand up, listen to it, then smile at each other again.
Don't be afraid to lose,
it is alright you are your own self.
Hari terakhir ....
Aku menunggunya dalam enggan. Berharap jika ia tak datang malam ini. Aku sungguh berharap ia tak datang dan menghentikan hitungan mundur yang terus kulakukan.
Namun harapanku sirna tatkala ia tampak dari balik pintu tempatnya masuk. Senyumnya terlihat lebih cerah hari ini. Sesaat setelah ia menutupnya ....
PRANG!!
Pintu itu hancur berkeping.
Selesai sudah ....
Aku tahu benar yang ia lakukan. Ia tak akan pernah terbangun lagi.
Jelas sebelum ini, ia menenggak begitu banyak obat tidur. Membuat ia dapat terlelap selamanya.
Ia menatap kaget untuk sesaat, tampak berusaha mencerna apa yang terjadi. Lantas tatapan penuh binarnya beralih padaku.
"Pintunya hancur. Dengan begini, aku sudah tak perlu lagi kembali!" soraknya bahagia.
Namun bukan ini yang kuinginkan.
"Lucy ... waktumu sudah habis. Aku akan mengambil jiwamu."
Ia tampak terhenyak ketika aku mengembalikan sosok asli diriku. Sosokku yang sebenarnya, dengan jubah hitam kelam dan sabit panjang yang memantulkan kilat cahaya rembulan.
"Aku adalah dewa kematianmu ... Lucy."
Ia masih terdiam, sampai akhirnya seulas senyum manis kembali menghiasi wajahnya. Ia tersenyum amat ringan, nyaris membuatku tak dapat mempercayai apa yang kulihat.
"Aku tak keberatan," katanya. "Terima kasih, karena sudah membuat saat-saat terakhirku begitu menyenangkan. Jika sudah tiba saatnya aku mati ... aku tak akan menyesalinya."
Sakit.
Menyakitkan sekali bagiku mendengar ia mengatakan yang demikian.
Selalu menyakitkan melakukan hal ini meski aku telah melakukannya ribuan ... mungkin jutaan kali.
"Apakah aku akan menjadi salah satu dari kupu-kupu ini?" Ia menatap kupu-kupu hitam yang masih setia menemani kami di sekitar bukit ini.
Aku mengangguk pelan. "Kau akan menunggu akhir tiba dalam sosok itu. Sebuah bentuk jiwa tanpa raga, kau tidak bisa menjadi manusia lagi."
"Aku tidak keberatan. Asalkan aku bisa terus berada di sini bersamamu ... aku sudah puas."
Ia sudah tak lagi memiliki nyawa, dan aku tidak dapat mencurangi waktu. Aku harus segera mengambil jiwanya.
Ia berdiri di hadapanku, lebih dari siap. Kuayunkan sabit panjangku melewati tubuhnya, menyisakan cahaya putih terang yang kemudian menguar.
Perlahan ... sosok manusianya menjadi buram, lenyap. Berganti seekor kupu-kupu hitam yang kemudian terbang perlahan ke arahku.
Kami sudah tak bisa bicara lagi, namun aku tahu ia mengucapkan terima kasih.
Call my name, dear my friend
I am here to warm your cold fingers
Call my name, call my name
the wave of sadness is not the rule of eternity
Beyond time
Ruptured with the bright light at horizon,
feeling its breath with my eyes closed.
Aku kembali menanti dalam sunyi. Kupu-kupu menari di sekitarku, nyawa yang telah kukumpulkan, menunggu saatnya nanti tiba.
Sebuah suara menggema, derit pintu terbuka menampakkan sosok manusia lain yang melangkah, menghampiriku dalam keraguan.
"Aku ... di mana?"
Aku tersenyum. Satu lagi manusia yang akan segera kuambil jiwanya, biarkan aku perlakukan ia dengan baik sekarang.
"Ini adalah dunia mimpi ... dan aku akan menemanimu di sini."
Empat puluh hari ....
Hitungan mundurku ... dimulai kembali.
END
Song: Call My Name - YUCCA.
A rift in the night at the hill where we pledged to meet
Kissing the flower petals that fall in the moonlight
Dua puluh satu hari....
Semilir angin menyusuri retak malam, membawa dingin yang merasuk hingga tulang. Semilir angin menari, berlalu tanpa salam, menyisa sepi dalam kelam.
Aku menunggunya.
Seseorang yang entah berasal dari mana ... mungkin dunia yang berbeda. Seorang manusia yang kuanggap berharga, bahkan lebih dari sebuah nyawa.
Aku menunggunya.
Bukit tempat kami berjanji akan bertemu. Aku menantinya dalam jemu, meski sadar benar bahwa keberadaanku hanyalah sesuatu yang semu.
Aku tetap menunggunya.
Di bawah kelopak bunga yang menari terbawa angin malam. Di antara aroma manis yang jatuh di bawah sinar bulan. Bunga persik yang bermekaran menjadi saksi betapa aku setia menanti.
A mysterious land and the key that lures you away
Until you let go of it−−you, little girl, will remain a child
"Lama menunggu?"
Suaranya menyentakku dari lamunan. Aku mengangkat pandanganku, lantas mendapati sosok yang kutunggu berdiri di hadapanku. Seulas senyum tergaris manis di bibirnya, membuatku turut menarik garis yang sama.
"Tidak juga. Aku suka menunggumu di sini," sahutku seadanya, apa adanya.
Memang, selain hal itu ... tak ada lagi yang dapat kulakukan di sini. Dalam ruang khayal ini.
"Maaf, akhir-akhir ini aku mengalami kesulitan tidur. Masalah ini dan itu membuatku terus berpikir hingga menutup mata pun jadi sulit," keluhnya. "Aku lega bisa bertemu denganmu lagi."
"Hidupmu di dunia nyata sepertinya berat sekali ya?"
Dia mendengus. "Aku tidak ingin membicarakannya, setidaknya saat ini ... biarkan aku lupa akan apa yang sudah terjadi. Aku lelah.
"Aku sungguh berharap aku tak pernah keluar dari mimpi ini ...." Sorot dingin nan sayu merayapi wajahnya.
Ahh, apa kau bertanya-tanya siapa aku? Atau ... siapa dia? Di mana kami?
Well, kau akan mengerti pelan-pelan. Biar kujelaskan sedikit yang mungkin perlu kaupahami.
Aku hanyalah bagian dari ilusi yang diciptakan gadis ini. Bagian dari dunia ideal yang ia coba ciptakan untuk melindungi ... atau mungkin sekadar menghibur dirinya dari dunia nyata yang kejam.
Lucid dream.
Kau pasti tahu arti istilah itu, bukan? Keadaan di mana kau sadar bahwa kau tengah bermimpi.
Dan aku hanyalah bagian dari hal konyol itu.
"Walau bagaimanapun, ini bukanlah tempatmu. Kau boleh datang kapan saja, aku akan selalu ada di sini menunggumu, tapi kau harus tetap pulang," jawabku menanggapi gumamannya, lantas membuatnya tersenyum miris.
"Ya ... aku tahu itu."
Napas panjang kuhela perlahan, senada aku menanggapi setiap ucapan juga keluhan yang terlontar darinya. Aku tahu dia lelah ... takut.
Perlahan, kutarik ia dalam pelukan.
"Kau tak perlu menakutkan apa pun, kembalilah kemari kapan saja dan aku akan menemanimu hingga kau terlupa untuk menangis."
There's nothing to fear, you will never be alone
Kami melewati malam, di bukit yang sama, di bawah pohon persik yang sama. Ia banyak bercerita.
Dia selalu berkata bahwa ia tak ingin keluar dari sini, namun siapa pun tahu itu tak boleh terjadi. Terjebak dalam mimpi ... artinya mati.
"Hei, mereka selalu berada di sekitarmu, ya?" Jemari gadis itu memainkan kupu-kupu hitam yang berterbangan di sekitar kami. Kupu-kupu yang setia menemaniku selama aku menunggu. Kupu-kupu hitam milikku.
Mereka tetap terlihat indah, berterbangan di bawah cahaya rembulan. Mereka tetap terlihat memesona, meski menebar racun dalam setiap kepakan sayapnya yang kelam.
"Mereka adalah teman-temanku. Bukahkah kau menyukainya juga?" jawabku seadanya. Salah satu dari serangga itu menghampiri ketika kujulurkan telunjukku ke udara.
Benar, mereka temanku. Kupu-kupu bersayap hitam ... sesosok jiwa tanpa raga.
Waktu dengan cepat berlalu. Perlahan, bayang biru langit pagi mulai mewarnai cakrawala.
"Sudah pagi, aku harus kembali sekarang."
Gadis itu berdiri, melangkah dengan tarikan kaki yang enggan. Sungguh kentara. Ia menatapku ketika berdiri di depan pintu itu. Pintu yang menjadi batas antara mimpi dan kenyataan.
"Aku akan datang lagi," pamitnya.
"Lucy...." Gadis itu berbalik ketika aku memanggil namanya. "Tak perlu takut, kau tidak sendirian. Panggil aku dalam hatimu, dan aku akan ada di sana."
Aku menyunggingkan senyum termanis untuknya. Cukup untuk membuatnya turut tertawa kecil, lantas mengangguk.
"Terima kasih." Ia melanjutkan langkahnya dengan ringan, melewati pintu dan kembali terbangun di dunia sana.
Call my name, dear my friend
I will be near you soon
We are connected anywhere we are
Call my name, call my name
I will hold you soon
No more cry and sleep in my arms
Empat belas hari ....
Aku terus menghitung waktu. Bukan berarti aku begitu menanti datangnya hari itu. Aku justru tak ingin hari itu segera tiba.
Kupandangi kupu-kupu hitam yang berterbangan di sekitarku. Sayap kelam mereka mengepak pelan, terbang perlahan, seolah memberi salam setiap kali salah satu dari mereka melewatiku.
"Wahai Pangeran Mimpi ... aku merindukanmu. Sesak ... sakit ... aku benci tempat ini."
Sebuah suara membuatku tersentak. Gadis itu memanggilku ....
Suaranya terdengar jauh, seolah terbawa samar oleh angin.
"Tenanglah ... semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada di sisimu ...," jawabku, mengatakan pesan yang kusampaikan dari bawah sadarnya.
A voice calling at the bottom of memory,
is another side of dream like noise of wind faraway.
Tujuh hari ....
Ia masih kembali kemari setiap malam. Meski di sini ia terlihat baik-baik saja, namun aku tahu keadaannya di dunia nyata tak pernah seperti itu.
Ia kesulitan tidur, perlakuan manusia-manusia kejam di sekitarnya terus membuatnya tersiksa. Ia mulai mengonsumsi obat-obatan hanya agar dapat terlelap dengan tenang.
Aku tahu semuanya.
Waktunya memang sudah tak lama lagi.
Jiwa yang rapuh ... dia tentu tak akan sanggup menahan segalanya.
"Aku takut ... aku benar-benar tak ingin kembali," gumamnya pada suatu hari.
"Lucy, dengar." Aku memainkan helaian ikal gadis itu ketika dia berbaring di pangkuanku. "Apa pun yang terjadi, walaupun suatu saat kita tidak bisa bersama lagi seperti ini ... kau tak perlu takut akan apa pun. Jadilah dirimu apa adanya, dan hadapi dunia itu dengan sisa waktumu.
"Dengan begitu ... kau tidak akan menyesali apa pun."
Someday when we can no longer stand up, listen to it, then smile at each other again.
Don't be afraid to lose,
it is alright you are your own self.
Hari terakhir ....
Aku menunggunya dalam enggan. Berharap jika ia tak datang malam ini. Aku sungguh berharap ia tak datang dan menghentikan hitungan mundur yang terus kulakukan.
Namun harapanku sirna tatkala ia tampak dari balik pintu tempatnya masuk. Senyumnya terlihat lebih cerah hari ini. Sesaat setelah ia menutupnya ....
PRANG!!
Pintu itu hancur berkeping.
Selesai sudah ....
Aku tahu benar yang ia lakukan. Ia tak akan pernah terbangun lagi.
Jelas sebelum ini, ia menenggak begitu banyak obat tidur. Membuat ia dapat terlelap selamanya.
Ia menatap kaget untuk sesaat, tampak berusaha mencerna apa yang terjadi. Lantas tatapan penuh binarnya beralih padaku.
"Pintunya hancur. Dengan begini, aku sudah tak perlu lagi kembali!" soraknya bahagia.
Namun bukan ini yang kuinginkan.
"Lucy ... waktumu sudah habis. Aku akan mengambil jiwamu."
Ia tampak terhenyak ketika aku mengembalikan sosok asli diriku. Sosokku yang sebenarnya, dengan jubah hitam kelam dan sabit panjang yang memantulkan kilat cahaya rembulan.
"Aku adalah dewa kematianmu ... Lucy."
Ia masih terdiam, sampai akhirnya seulas senyum manis kembali menghiasi wajahnya. Ia tersenyum amat ringan, nyaris membuatku tak dapat mempercayai apa yang kulihat.
"Aku tak keberatan," katanya. "Terima kasih, karena sudah membuat saat-saat terakhirku begitu menyenangkan. Jika sudah tiba saatnya aku mati ... aku tak akan menyesalinya."
Sakit.
Menyakitkan sekali bagiku mendengar ia mengatakan yang demikian.
Selalu menyakitkan melakukan hal ini meski aku telah melakukannya ribuan ... mungkin jutaan kali.
"Apakah aku akan menjadi salah satu dari kupu-kupu ini?" Ia menatap kupu-kupu hitam yang masih setia menemani kami di sekitar bukit ini.
Aku mengangguk pelan. "Kau akan menunggu akhir tiba dalam sosok itu. Sebuah bentuk jiwa tanpa raga, kau tidak bisa menjadi manusia lagi."
"Aku tidak keberatan. Asalkan aku bisa terus berada di sini bersamamu ... aku sudah puas."
Ia sudah tak lagi memiliki nyawa, dan aku tidak dapat mencurangi waktu. Aku harus segera mengambil jiwanya.
Ia berdiri di hadapanku, lebih dari siap. Kuayunkan sabit panjangku melewati tubuhnya, menyisakan cahaya putih terang yang kemudian menguar.
Perlahan ... sosok manusianya menjadi buram, lenyap. Berganti seekor kupu-kupu hitam yang kemudian terbang perlahan ke arahku.
Kami sudah tak bisa bicara lagi, namun aku tahu ia mengucapkan terima kasih.
Call my name, dear my friend
I am here to warm your cold fingers
Call my name, call my name
the wave of sadness is not the rule of eternity
Beyond time
Ruptured with the bright light at horizon,
feeling its breath with my eyes closed.
Aku kembali menanti dalam sunyi. Kupu-kupu menari di sekitarku, nyawa yang telah kukumpulkan, menunggu saatnya nanti tiba.
Sebuah suara menggema, derit pintu terbuka menampakkan sosok manusia lain yang melangkah, menghampiriku dalam keraguan.
"Aku ... di mana?"
Aku tersenyum. Satu lagi manusia yang akan segera kuambil jiwanya, biarkan aku perlakukan ia dengan baik sekarang.
"Ini adalah dunia mimpi ... dan aku akan menemanimu di sini."
Empat puluh hari ....
Hitungan mundurku ... dimulai kembali.
END
Cerpen: Burung Gagak dan Penebang Kayu
Seekor burung gagak terbang rendah di antara pepohonan hutan, menikmati udara sore yang hangat. Beberapa saat berkeliling, sepasang matanya kemudian tertuju pada sesuatu yang menarik di bawah sana. Lantas ia mendarat di salah satu batang pohon.
“Selamat sore,” sapanya pada seorang manusia yang duduk di bawah pohon yang ia singgahi.
Pria yang merasa tengah disapa itu mendongak, mencari keberadaan suara yang memanggilnya. Tatapannya yang sedikit sayu bertemu dengan si Gagak.
“Apa yang Anda lakukan di sana, Tuan?” Si Gagak bertanya lagi.
“Huh?” sahut pria itu sedikit melantur. “Seperti yang kaulihat …, menebang kayu. Itu pekerjaanku.”
“Tapi yang saya lihat, Anda tidak sedang melakukan apa pun,” Gagak terbang rendah dan mendarat di hadapan pria itu, “Anda sedang mabuk?”
“Sedikit … sepertinya—hik!” Pria itu terceguk.
“Tuan, pekerjaan Anda berbahaya, dan Anda ingin melakukannya dengan kondisi seperti ini? Sesuatu yang buruk akan terjadi,” tegur si Gagak melihat tingkah pria itu.
“Haaahh, sudahlah. Aku tidak butuh ceramah dari seekor burung!” Pria itu menepis tubuh si Gagak, membuatnya segera terbang menjauh tanpa mengatakan apa pun lagi.
#
Di lain hari, si Gagak kembali menjumpai pria itu di tempat yang sama. Ia bersandar di bawah pohon yang sama dengan tempo hari, namun kali ini batang pohon itu tampak telah ditebang seperempatnya.
“Halo Tuan,” si Gagak menyapa ringan, “wah, Anda mabuk lagi?”
“Diam. Isteriku tahunya marah-marah saja di rumah, dan aku tidak ingin mendengar ocehanmu juga di sini, gagak sok pintar,” sembur pria itu ketus.
“Anda dan isteri Anda sedang bermasalah?”
“Kami miskin, tentu saja banyak sekali masalah yang kami miliki. Sudah, berhentilah bertanya dan pergilah!” usir pria itu kemudian.
“Sebesar apa pun masalah yang kalian hadapi, tak seharusnya hal itu membuat kalian seperti ini. Bagaimanapun, kalian suami-isteri,” tegur si Gagak ketika hendak pergi.
“… kalian akan menyesal jika salah satunya menghilang.”
#
Di sore lainnya, si Gagak kembali mendapati pria itu separuh sadar di bawah pohon yang sama. Kali ini, batang pohon itu tampak telah terpangkas lebih separuhnya, sementara pria itu tampak tengah mabuk berat. Memutuskan untuk tak mengganggu, si Gagak berlalu begitu saja tanpa menyapa pria itu.
Di hari yang lain ia mendapati yang sedikit berbeda. Pria itu tampak giat sekali hari ini, mengayunkan kapaknya pada batang pohon yang sedikit lagi akan tumbang. Pria itu terus menghantamkan kapaknya, mengabaikan peluh yang membanjir.
Si Gagak mendarat di batang pohon yang lain, tak jauh dari sana. Menatap datar si Penebang Kayu yang dengan sekali lihat saja, ia tahu bahwa pria itu sedang mabuk berat.
“Manusia bodoh…,” gumamnya.
Krak!
Suara yang keras tiba-tiba terdengar. Perlahan, pohon itu mulai miring, jatuh ke tanah karena batangnya tak lagi mampu menopang tinggi tubuhnya.
Si Penebang yang memang sedang dalam keadaan separuh sadar agaknya membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat menyadari bahwa pohon itu condong ke arahnya, membuatnya tak memiliki cukup waktu untuk menghindar.
Suara berdebum menggema di seluruh penjuru hutan. Pohon itu telah tumbang … dengan batangnya yang kini menindih nyaris seluruh tubuh si Penebang.
Pria itu merintih lirih. Sakit yang menghujam seluruh tubuh membuatnya tak bisa melakukan apa pun. Dalam pandangannya yang samar, ia melihat si Gagak mendarat di hadapannya.
Kabut gelap mulai mengelilingi tubuh si Gagak. Perlahan, tubuh itu berubah menjadi sosok tinggi besar dengan jubah hitam. Tangannya menggenggam sebuah sabit panjang.
Tahulah ia siapa sosok itu sekarang.
Tanpa mengatakan apa pun, sosok gelap itu mengayunkan sabitnya. Mencabut nyawa dari raga si Penebang tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kini, ia menatap sosok tak bernyawa itu dengan tatapan dingin.
“Aku tidak mengerti mengapa manusia begitu ditinggikan. Mereka cerdas, bisa membedakan mana salah, mana benar … namun tetap saja jatuh pada kesalahan yang sama,” gumamnya dingin.
“Betapa bodoh dan memalukan.”
END
“Selamat sore,” sapanya pada seorang manusia yang duduk di bawah pohon yang ia singgahi.
Pria yang merasa tengah disapa itu mendongak, mencari keberadaan suara yang memanggilnya. Tatapannya yang sedikit sayu bertemu dengan si Gagak.
“Apa yang Anda lakukan di sana, Tuan?” Si Gagak bertanya lagi.
“Huh?” sahut pria itu sedikit melantur. “Seperti yang kaulihat …, menebang kayu. Itu pekerjaanku.”
“Tapi yang saya lihat, Anda tidak sedang melakukan apa pun,” Gagak terbang rendah dan mendarat di hadapan pria itu, “Anda sedang mabuk?”
“Sedikit … sepertinya—hik!” Pria itu terceguk.
“Tuan, pekerjaan Anda berbahaya, dan Anda ingin melakukannya dengan kondisi seperti ini? Sesuatu yang buruk akan terjadi,” tegur si Gagak melihat tingkah pria itu.
“Haaahh, sudahlah. Aku tidak butuh ceramah dari seekor burung!” Pria itu menepis tubuh si Gagak, membuatnya segera terbang menjauh tanpa mengatakan apa pun lagi.
#
Di lain hari, si Gagak kembali menjumpai pria itu di tempat yang sama. Ia bersandar di bawah pohon yang sama dengan tempo hari, namun kali ini batang pohon itu tampak telah ditebang seperempatnya.
“Halo Tuan,” si Gagak menyapa ringan, “wah, Anda mabuk lagi?”
“Diam. Isteriku tahunya marah-marah saja di rumah, dan aku tidak ingin mendengar ocehanmu juga di sini, gagak sok pintar,” sembur pria itu ketus.
“Anda dan isteri Anda sedang bermasalah?”
“Kami miskin, tentu saja banyak sekali masalah yang kami miliki. Sudah, berhentilah bertanya dan pergilah!” usir pria itu kemudian.
“Sebesar apa pun masalah yang kalian hadapi, tak seharusnya hal itu membuat kalian seperti ini. Bagaimanapun, kalian suami-isteri,” tegur si Gagak ketika hendak pergi.
“… kalian akan menyesal jika salah satunya menghilang.”
#
Di sore lainnya, si Gagak kembali mendapati pria itu separuh sadar di bawah pohon yang sama. Kali ini, batang pohon itu tampak telah terpangkas lebih separuhnya, sementara pria itu tampak tengah mabuk berat. Memutuskan untuk tak mengganggu, si Gagak berlalu begitu saja tanpa menyapa pria itu.
Di hari yang lain ia mendapati yang sedikit berbeda. Pria itu tampak giat sekali hari ini, mengayunkan kapaknya pada batang pohon yang sedikit lagi akan tumbang. Pria itu terus menghantamkan kapaknya, mengabaikan peluh yang membanjir.
Si Gagak mendarat di batang pohon yang lain, tak jauh dari sana. Menatap datar si Penebang Kayu yang dengan sekali lihat saja, ia tahu bahwa pria itu sedang mabuk berat.
“Manusia bodoh…,” gumamnya.
Krak!
Suara yang keras tiba-tiba terdengar. Perlahan, pohon itu mulai miring, jatuh ke tanah karena batangnya tak lagi mampu menopang tinggi tubuhnya.
Si Penebang yang memang sedang dalam keadaan separuh sadar agaknya membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat menyadari bahwa pohon itu condong ke arahnya, membuatnya tak memiliki cukup waktu untuk menghindar.
Suara berdebum menggema di seluruh penjuru hutan. Pohon itu telah tumbang … dengan batangnya yang kini menindih nyaris seluruh tubuh si Penebang.
Pria itu merintih lirih. Sakit yang menghujam seluruh tubuh membuatnya tak bisa melakukan apa pun. Dalam pandangannya yang samar, ia melihat si Gagak mendarat di hadapannya.
Kabut gelap mulai mengelilingi tubuh si Gagak. Perlahan, tubuh itu berubah menjadi sosok tinggi besar dengan jubah hitam. Tangannya menggenggam sebuah sabit panjang.
Tahulah ia siapa sosok itu sekarang.
Tanpa mengatakan apa pun, sosok gelap itu mengayunkan sabitnya. Mencabut nyawa dari raga si Penebang tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kini, ia menatap sosok tak bernyawa itu dengan tatapan dingin.
“Aku tidak mengerti mengapa manusia begitu ditinggikan. Mereka cerdas, bisa membedakan mana salah, mana benar … namun tetap saja jatuh pada kesalahan yang sama,” gumamnya dingin.
“Betapa bodoh dan memalukan.”
END
Langganan:
Postingan (Atom)